Latest Entries »

Mosque

Masjid Agung Pare-Pare,,,makassar

View on Path

Udah Lama gak maenin n nyanyiin Lagu ini….mantap…ada yg tau Lagu’nya??

Listening to A Whole New World (Aladdin’s Theme) [Soundtrack Version] by Peabo Bryson & Regina Belle

Preview it on Path

http://soundcloud.com/marco_patiroy/marco-disini-sendiri

Ini dia nih saLah satu Lagu ciptaan gw….
KebetuLan semua yg main’nya gw…
KecuaLi drum’nya….
Mohon di dengarkan….

A L Ö N E

I was a midnight rider on a cLoud of smoke
I couLd make a woman hang on every singLe stroke
I was an iron man..I had a master pLan
But I was aLone

I couLd hear you breathing with a sigh of the wind
I remember how your body started trembLing
Oh what a night it’s been and for the state I’m in
I’m StiLL ALone

And aLL the wonders made for the Earth
And aLL the hearts in aLL creation
Somehow I aLways end up aLone
ALways end up aLone

So I’LL pLay…I’LL wait
Cause you know that Love takes time
We came so far
Just the beat of a LoneLy heart
And it’s mine
I don’t want to be aLone

WeLL, since I got no message on your answer phone
And since you’re bust every minute
I just stay at home, I make beLieve you care
I feeL you everywhere
But I’m stiLL aLone

I’m on a wheeL of fortune with a twist of fate
Cause I know it isn’t heaven, is it Love or hate
Am I the subject of the pain
Am I the stranger in the rain
I am aLone

And is there gLory there to behoLd
Maybe it’s my imagination
Another story there to be toLd

So I’LL pLay…I’LL wait
And I’LL pray it’s not too Late
You know we can so far
Just the beat of a LoneLy heart
And it’s mine
I don’t want to be aLone

And aLL the wonders made for the Earth
And aLL the hearts in aLL creation
Another story there to be toLd

So I’LL pLay…I’LL wait
And I’LL pray it’s not too Late
We can so far
Just the beat of a LoneLy heart
And it’s mine
I don’t want to be aLone

Gone but not out of sight
I’m caught in the rain and there’s no one home
Face the heat of the night
The one that you Love’s got a heart that’s made of stone
Shine and search for the Light
And sooner or Later you’LL be cruising on your ocean
And cLean out of site
I’m caught in the rain and there’s no one home

Hahahaha…Masih Iseng-Iseng

Iseng-iseng lagi, upload video sendiri, mungkin tergolong narsisisme, tapi ya cuma sekedar ber’memorabilia aja.

Nahh, kalo yang ini sih lagi iseng-iseng nyanyiin lagu ciptaan sendiri di rumah temen, hahahaha.

Lumayanlah buat sekedar nakutin tikus mah, hahahaha.

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah maen ke rumah seorang teman baik saya yang beberapa hari yang lalu berulang tahun. Sambil iseng-iseng, saya di suruh nyanyi ama yang punya rumah yang kebetulan suka bgt ama lagu yang saya nyanyiin tsb (ini kenapa dari tadi ketikan saya banyak kata “Yang”nya sih ya ?? yang jelas bukan berarti saya ngefans ama lagu wali yang judulnya “yang”, tuh kan masih banyak kata yang’nya, hahahaha)

Someday, saya haruz bisa nulis tanpa menggunakan kata “Yang”, tapi kira-kira gmna jadinya ya ?? gini aja,coba saya edit ulang paragraph di atas dengan menghapus/mengganti setiap kata “yang”.

“Beberapa waktu lalu, saya pernah maen ke rumah seorang teman baik saya dimana ketika beberapa hari lalu berulang tahun. Sambil iseng-iseng, saya di suruh nyanyi ama si punya rumah dimana dia kebetulan suka bgt ama lagu dimana kemudian saya nyanyiin tsb”.

Gimana ?? perasaan makin ancur / rancu ya ??

“Beberapa waktu yang lalu, saya pernah maen ke rumah seorang teman baik saya yang berulang tahun beberapa hari lalu. Sambil iseng-iseng, saya di suruh nyanyi ama tuan rumah. Kebetulan dia suka bgt ama lagu yang saya nyanyiin tsb”.

Gimana kali ini ?? kayaknya lebih mendingan deh ya.
Tapi ngomong-ngomong, nih sebenrnya saya lagi ngbahas apa sih ??
Ya udah segitu aja dulu deh, silahkan nikmati suara jelek saya, hahahaha 😉

I Believe

 

I believe… When you are not with me there are no stars in the sky.

I believe… The way back to you will feel a little far.

I’ll carry all those memories deep inside me.

I’ll feel pain, it’ll make tears fall.

When I won’t cry you will leave me

With no change and no tears.

Someday again the tears will come around

You know it

I’ll believe that you are waiting.

I do it for you.

I believe… It’ll hurt me to see, you can’t cry.

I believe… My tears will fall, you should turn back to me again.

Again I’ll glimpse you come into my sight

And it’ll make my tears fall.

When I won’t cry you will leave me

With no change and no tears.

Someday again the tears will come around

You know it

I’ll believe that you are waiting.

I do it for you.

Before I knew you, the world was dazzling.

From that sky I got left with tears.

I will care for that person.

You are the only reason…

To me the wait gives me enough happiness.

Love is the only reason…

As days pass by,

If you forget the way, I’ll be waiting

I do it for you.

I do it for you.

I Can Be Your Hero !!!

I Can Be Your Hero !!!


Quiero ser tu héroe

Si una vez
yo pudiera llegar
a erizar de frío tu piel
a quemar que sello tu boca
y morirme ahi después
y si entonces temblaras por mi
y lloraras al verme sufrir
y sin dudar
tu vida entera dar
como yo la doy por tí

Si pudiera ser tu héroe
Si pudiera ser tu dios
que salvarte a tí mil veces
puedes ser, mi salvación

Si supieras la locura que llevo
que me hiere
y me mata por dentro
y que más da
mira que al final
lo que importa es que
te quiero

Si pudiera ser tu héroe
Si pudiera ser tu dios
que salvarte a tí mil veces
puedes ser, mi salvación

Dejame tocarte
quiero acariciarte
una vez más
mira que al final
lo que importa es que
te quiero

Si pudiera ser tu héroe
Si pudiera ser tu Dios, oye
que salvarte mil veces
puedes ser, mi salvación

Quiero ser tu héroe
si pudiera ser tu dios
por que salvarte a ti mil veces
puede ser mi salvación
puede ser mi salvación
quiero ser tu héroe

“Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku agar mencintai semua orang yang membenciku,
Dan berteman dengan mereka yang memfitnahku.
Jiwaku menasihatiku dan mengungkapkan kepadaku bahawa cinta tidak hanya menghargai orang yang mencintai, tetapi juga orang yang dicintai.


Jiwaku memintaku untuk menatap semua yang buruk dengan tabah sampai nampaklah keelokannya.


Jiwaku menasihatiku dan memintaku untuk mendengar suara yang keluar bukan dari lidah maupun dari tenggorokan.
Sebelumnya aku hanya mendengar teriakan dan jeritan di telingaku yang bodoh dan sia-sia.


kesendirian adalah kebahagianku.


Jiwaku menasihatiku dan memintaku mencari yang tak dapat dilihat.


Dan jiwaku menyingkapkan kepadaku bahwa apa yang kita sentuh adalah apa yang kita impikan.


Jiwaku menasihatiku dan memintaku agar tidak merasa mulia kerana pujian Dan agar tidak disusahkan oleh ketakutan kerana cacian.
Sampai hari ini aku berasa ragu akan nilai pekerjaanku,


Jiwaku menasihatiku dan meyakinkanku Bahwa aku tak lebih tinggi berbanding cebol ataupun rendah berbanding raksasa….”

 

 

 

 

Beberapa hari yang lalu, saat saya sedang dalam perjalanan menuju Jakarta, saya menggunakan jasa transportasi umum kereta api jurusan Rangkasbitung-Jakarta.

Saat saya sedang termenung sambil menikmati pemandangan di luar jendela kereta, saya di kejutkan dengan teriakkan seorang pedagang yang sedang menawarkan dagangannya (yang saya sendiripun tidak tahu apa dagangan beliau,karena saya sepanjang perjalan, saya selalu menatap ke jendela, karena banyak sekali yang “terjadi” di luar jendela tsb).

Pedagang itu berteriak dengan lantangnya, “Sapuluh rebu terakhir !!! Sapuluh rebu terakhir !!!”. Lantas imajinasi konyol saya memaksa pikiran saya untuk bertanya-tanya, “Apa maksud dari Sepuluh rebu terakhir tsb ??”

1)   Saat itu adalah terakhir kalinya pedagang itu berdagang, dan beliau menjual dagangan yang harganya Rp. 10.000,-

Atau,

2)   Itu dagangan terakhir si pedagang, makanya beliau mengobralnya dengan harga Rp. 10.000,-

Atau,

3)   Pedagang tsb sedang mengumpulkan uang sepuluh ribuan, dan beliau sedang membutuhkan uang sepuluh ribuan yang terakhir,

Atau,

4)   Sepanjang hidupnya, pedagang tersebut telah berdagang 9999x, maka dari itu beliau berencana pensiun berdagang saat beliau telah mencapai sepuluh ribu kali berdagang,

Atau malah jangan-jangan,

5)   Saat itu adalah saat-saat terakhir pedagang itu, oleh karenanya, beliau menginginkan Rp. 10.000,- sebagai permohonan terakhirnya.

 

Apapun yang terjadi, entahlah. Yang jelas, saya berharap bukan kemungkinan no.5 yang terjadi pada pedagang tsb, semoga saja.

Atau mungkin kalian punya persepsi sendiri tentang makna dari “Sapuluh Rebu Terakhir” tsb ??

 

Selain pengalaman di atas, saya juga pernah punya pengalaman lain tentang “uniknya” pedagang. Waktu itu, saya sedang dalam perjalanan menuju Rangkasbitung, saya menggunakan jasa transportasi umum bus Primajasa jurusan Tanjung Priok-Rangkasbitung, saya agak lupa waktu tepatnya kejadian ini, yang jelas, kejadian ini terjadi di tahun 2007, karena di tahun tsb, saya memang sering bepergian Jakarta-Rangkasbitung.

Singkat cerita, di tengah perjalanan, masuklah pedagang apel ke bus yang saya tumpangi. Awalnya semua berjalan normal, sampai akhirnya pedagang itu mulai pusing karena belum ada satupun penumpang yang membeli apelnya. Sepanjang perjalanan, berbagai upaya telah di lakukan pedagang itu agar apelnya terjual. Mulai dari me”Random” apel di karungnya, lalu dia ambil satu lalu dia makan apel yang telah dia ambil secara acak tersebut, sambil memakan apel tsb, pedagang itu berkata setengah berteriak (mulai terlihat sedikit agak emosi), “pak, bu, nih lihat, apel saya gak ada racunnya,gak ada bilatungnya (sejenih binatang pemakan buah-buahan). Sekali lagi nih lihat, udah saya makan tapi aman-aman aja kan??”. Tindakan pedagang tsb malah membuat para penumpang tersenyum sambil berusaha sekuat mungkin menahan tawa. Akhirnya perjalanan terus berlanjut, sampai akhirnya masuklah pedagang salak. Tak lama berselang, justru pedagang salak yang baru masuk itulah yang dagangannya laris-manis, dan akhirnya ada seorang penumpang yang membeli salak menggunakan “uang pecahan besar” (Rp. 50.000,-), dan untuk memberikan uang kembalian, pedagang salak tsb (dengan polosnya) berniat menukarkan uang recehan ke pedagang apel yang belum laku itu. Spontan, pedagang apel tsb meluapkan emosinya, dengan logat sundanya, pedagang itu memaki, “dia ngaledek ato ngahina ?? aing ti tatadi dagang encan laku-laku, ehh dia malah menta nukeran kembalian ka aing !!!”. Terjemahannya adalah, “Lo ngeledek atau ngehina ?? gw dari tadi dagang belum laku-laku, ehh lo malah minta nukerin kembalian ke gw”.

Dan anda bisa bayangkan, para penumpang semakin berusaha menahan tawa mereka. Perjalanan terus berlanjut, sampai akhrnya pedagang apel tsb kesal dan bertingkah untuk ke sekian kali. Lagi-lagi, pedagang apel tsb me”random” apelnya, dan di pilihnya salah satu, lalu apel itu di hadapkan ke atas, dan pedagang itupun juga ikut menengadah ke atas, sambil berkata, “ya Tuhan, iyeu apel aya naonan kitu budak ?? kok teu laku-laku nyah ??”, yang artinya, “ya Tuhan, ini apel ada apaannya gitu ya ?? kok gak laku-laku ya ??”. di saat bersamaan, masuklah dua orang pengamen. Baru saja pengamen tsb mau mengucapkan salam pembuka, pedagang apel tsb menahannya sambil berkata sambil memaksa pengamen tsb, “nahh, kebetulan, sok geura milihan tah nu aya di karung, gratis, geura milihan, geura di dahar, ulah nyanyi heula, dahar apel heula wayahna”. Yang artinya “nahh, kebetulan, silahkan cepetan ambil tuh yang ada di karung, gratis, cepet ambil, cepet di makan, jangan nyanyi dulu, makan apel dulu, tolong”. Sekarang ada bisa bayangkan ekspresi kesal si pedagang apel tsb dan raut wajah kebingungan pengamen tsb dan bagaimana para penumpang menahan diri untuk tidak terpingkal-pingkal. Kemudian pedagang itu berkata lagi, “tuh kan, udah saya bilang, ini apel normal, gak ada apa-apanya, apel sehat, tapi kenapa kagak ada yang mau beli ya ?? kalo bapak-bapak ibu-ibu kurang percaya, silahkan cek aja kebon’nya di Ci***de, punya Haji T***R, kenal semua orang sana pak, bu. Dia itu juragan buah-buahan, kebonnya banyak, dia itu bos saya, saya nyetor hasil dagangan ke dia. Apel kan buah elit, kenapa sih susah amat di ajak kayak orang kaya, jangan terus-terusan makan buah dukuh, paya, pisang, nangka. Apa salahnya sih sekali-kali makan buah elit. Dan lagi apel itu cocok buat oleh-oleh, bisa buat jenguk yang lagi sakit. Kenapa sih pada gak mau beli ini apel ?? padahal ini apel manis, mulus, bersih, bisa menyehatkan bapak-ibu sekalian. Huft, aneh bener-bener aneh”.

Saya benar-benar tak habis pikir, ternyata ada pedagang se’unik ini. Dan maaf, sengaja nama tempat dan nama pemiliknya saya samarkan, sebagai rasa hormat saya.

Berlanjut ke cerita pedagang apel tsb, akhirnya perjalanan telah hampir sampai ke kota tujuan, dan apel tsb masih (tetap) belum terjual juga. Akhirnya, kekesalan pedagang tsb sampai pada puncaknya, belum juga sampai ke kota tujuan, pedagang tsb minta diturunkan di tengah jalan, “pir, berhenti pir, kapok saya dagang di bus, mendingan abis ini saya dagang di kereta. Dagangan saya biarin aja di sini, sengaja saya tinggal, biar ada yang mulung, biar tahu kalo apel saya normal, gak ada apa-apanya, bodo amat saya di omelin ama Haji T***R gara gak nyetor, udah pir berhenti sini aja, percuma, Capek saya ngomongnya juga, tetep gak bakal di beli”. Dan pedagang itupun turun di tengah jalan, dan benar saja, apel dagangan itu dia tinggal, ya benar, dan benar-benar dia tinggalkan di bus. Saya dan penumpang yang lain, yang tadinya senyum-senyum sesekali  tertawa, akhirnya terdiam sejenak, di satu sisi prihatin dan kasihan, di sisi lain sangat menyayangkan sikap dari pedagang tsb. Tapi di sisi lainnya juga, saya kagum, karena pedagang tersebut bisa di bilang “unik / nyentrik”. Saya hanya bisa mendoakan, semoga (kalau beliau masih berdagang) dagangan beliau laris-manis di kemudian hari, amien.

Seumur hidup saya, baru kali itu saya melihat pedagang seperti itu, bahkan sampai meninggalkan dagangannya yang masih utuh, mungkin ini terdengar janggal, tapi memang begitu kenyataannya. Mungkin kalau saya waktu itu memiliki alat dokumentasi, sudah tentu bakal saya dokumentasikan.

Sekian pengalaman saya tentang pedagang, dan sekali lagi saya tekankan, ini semua nyata, sayapun sampai sekarang masih suka berpikir, “kok bisa ya itu pedagang sampai ninggalin dagangannya tsb. Kok bisa ya semidah itu menyerah ??”. dan setelah kejadian tsb, sampai detik ini, bilamana saya melihat apel, spontan saya langsung “mesam-mesem” sendiri mengingat kajadian ini. Semoga saja Tuhan memberikan kesabaran Lebih kepada pedagang tsb, amien.

Sekian dan Terima Kasih.